Wednesday, May 25, 2005

Malang - Jakarta

Sriwijaya Air Terbangi Rute Malang-Jakarta
Rabu, 25 Mei 2005 | 15:14 WIB

TEMPO Interaktif, Malang:

Setelah melewati perundingan yang cukup lama dan alot, akhirnya maskapai penerbangan Sriwijaya Air jadi melayani rute Malang-Jakarta pergi-pulang. Penerbangan perdana Sriwijaya Air berlangsung Rabu (25/5), dari Jakarta pukul 07.55 WIB dan mendarat di Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh pada pukul 09.20 WIB.

Upacara pembukaan jalur penerbangan itu diadakan di halaman Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Ikut hadir dalam acara ini pejabat Markas Besar TNI Angkatan Udara, beserta para pejabat musyawarah pimpinan daerah Malang Raya (kabupaten dan kota Malang, plus Kota Batu).

Seusai acara, Presiden Direktur Sriwijaya Air Chandra Lie menyatakan rute Malang-Jakarta sangat prospektif. Ia merujuk pada jumlah masyarakat Malang yang selama ini menggunakan jasa angkutan udara lewat Bandar Udara Juanda di Surabaya, yang, menurutnya, mencapai kisaran rata-rata 30-40 persen dari total penumpang Jawa Timur, dengan tujuan utama Jakarta dan sebaliknya.
“Kami telah penuhi janji menerbangi rute baru ini. Melihat animo masyarakat Malang yang menggunakan jasa penerbangan selama ini, dengan tujuan utama Jakarta pergi-pulang, kami optimistis rute ini akan memberikan kontribusi yang besar bagi kami,” kata Chandra Lie menjawab Tempo.

Untuk sementara, kata Chandra, pihaknya baru melakukan sekali penerbangan dalam sehari baik dari Malang maupun Jakarta. Namun dalam satu-dua bulan mendatang, Sriwijaya Air berencana menambah frekuensi penerbangan menjadi dua kali dalam sehari. Khusus menyambut Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang, 3-8 Juli, penerbangan akan ditambah menjadi tiga kali (pagi, siang, dan sore).

Malang adalah daerah ketujuh belas jalur penerbangan Sriwijaya Air. Dari 17 daerah, Sriwijaya Air paling banyak terbang ke Pangkalpinang dari Jakarta, yakni empat kali dalam sehari, disusul Pontianak dan Batam masing-masing sebanyak tiga dan dua kali.

Sejak beroperasi pada 10 November 2003, ujar Chandra, tempat duduk yang terjual maskapainya rata-rata mencapai 85 persen dari 125 seat Boeing 737-200. Tingkat pertambahan jumlah penumpang per tahun mencapai 100 persen untuk semua rute. Pertambahan jumlah penumpang membuat Sriwijaya Air menambah armadanya dari 10 menjadi 11 buah. Pesawat ke-9, 10 dan 11 baru akan dioperasikan mulai awal Juni nanti.

Namun Chandra menolak menyebut besaran margin profit yang diincar lantaran sangat dipengaruhi kenaikkan harga avtur (bahan bakar pesawat) sekitar 20 persen ditambah nilai dolar yang fluktuatif terhadap rupiah. Begitu pun, mengingat kinerja Sriwijaya Air sejauh ini masih bagus, maka tarif tiket untuk semua rute tidak akan dinaikkan. Kebijakan ini diambil semata untuk memberi keringanan pada penumpang agar lebih mudah berpergian dengan transportasi udara. “Dengan tarif lama, kami ingin menjaga hubungan baik sekaligus memberikan kemudahan pada masyarakat pengguna Sriwijaya Air,” katanya.

Pratiwi, Controller Sales National, menambahkan, tarif tiket Malang-Jakarta dipatok Rp 325 ribu per orang. Ini merupakan harga promosi yang sesungguhnya belum menutupi seluruh ongkos sebesar Rp 350 ribu. Harga ini bisa diturunkan atau dinaikkan tergantung perkembangan minat penumpang.



Ongkos operasional Sriwijaya Air lebih dari US$ 4 ribu dolar per jam. Biaya pembelian avtur saja mencapai 60-70 persen dari biaya operasional. Walau jarak Malang-Jakarta sebenarnya dapat ditempuh sejam penerbangan garis lurus, namun peraturan lalu lintas penerbangan mengharuskan perjalanan Sriwijaya Air harus menempuh jalur penerbangan sipil Jakarta-Surabaya baru kemudian menempuh penerbangan Surabaya-Malang. Koridor Malang-Jakarta melewati sejumlah wilayah udara militer di Yogyakarta, Madiun, dan Malang yang terlarang bagi penerbangan sipil. Akibatnya, waktu tempuh menjadi 1 jam 25 menit.


EmoticonEmoticon