Thursday, March 9, 2006

Mengapa Kasus Arema dan Persipura Harus Terjadi?

Damainya Aremania, Hangatnya Agusman
Acungan jempol layak kita berikan kepada Aremania. Demo yang mereka gelar di markas PSSI Senin lalu berlangsung damai dan efektif. Kehangatan Agusman Effendi menebar simpati.

Catatan: Slamet Oerip Prihadi

SEJARAH akan mencatat bagaimana Aremania memperjuangkan nasib tim kesayangannya. Yang mengagumkan adalah cara mereka berdemo di markas PSSI Senin siang lalu. Tak ada aksi anarkis. Yang ada hanyalah aksi elegan menuntut solusi. Apa yang harus dilakukan PSSI setelah Arema dicoret dari pentas Liga Champions AFC 2006?

Agusman Effendi sebagai Ketua Harian PSSI menyambut hangat sekitar 200 suporter gabungan itu. Aremania didampingi suporter tuan rumah Jakmania dan NJ (North Jakarta) Mania. Juga Aremania Batavia - Aremania yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya). Hebat.

So, aksi damai Aremania dan kehangatan pribadi Agusman layak kita acungi jempol. Segala permasalahan sepak bola nasional memang membutuhkan kedinginan, kejernihan nalar, dan tekad kuat. Bukan zamannya lagi untuk saling hujat dan melampiaskan emosi anarkis yang tak menyelesaikan persoalan. Membangun sepak bola yang fair dan berkualitas membutuhkan perjuangan keras dan kesabaran.

Semoga PSSI menepati janjinya kepada Aremania, Arema, dan Persipura. Andai Arema dan Persipura gagal menjuarai Liga Djarum 2006 dan Copa Indonesia, perlu solusi lain untuk memberangkatkan mereka ke kejuaraan internasional bergengsi lainnya.
* * *
Demo Aremania adalah ekspresi dinamika dan gairah sepak bola nasional. Kendati kualitas sepak bola nasional masih memble, semangat kebangkitan tak pernah padam. Kecintaan para suporter kepada klub tak pernah pudar. Ini yang amat membanggakan.

Sementara itu, para pengusaha pun mulai bergairah mengucurkan dana untuk sepak bola. Putra Sampoerna jadi taipan pertama Indonesia yang menyeponsori klub raksasa dunia Manchester United, 60 juta poundsterling (Rp 971,6 miliar) dengan durasi 4 tahun. Putra Sampoerna tertera di kostum The Red Devils. Dahsyat!

Kabarnya, Dji Sam Soe pun mulai tergerak mencurahkan dana di Jatim. Khusus untuk pembinaan pemain-pemain muda berkualitas. Tak hanya menyeponsori Copa Indonesia. Begitu pula Bentoel yang semakin konsisten mem-back up Arema.

PT Djarum Indonesia juga memperbesar kran dananya. Kompetisi tahun lalu Rp 21 miliar, kini Rp 35 miliar. Peningkatan signifikan yang sangat menggembirakan.

Memang, peran pemerintah kota/kabupaten/provinsi masih sangat dominan. Salut buat seluruh Pemkot/Pemkab/Pemprov yang menghidupi klub-klub bola kita. Namun, gejala kian bergairahnya sektor swasta mengindikasikan bahwa sepak bola kita bisa dijual.

Pendek kata, sikon sepak bola di tanah air semakin kondusif. Itulah sebabnya PSSI sebagai pucuk komando mboh yaopo carane (berusaha sekeras-kerasnya) wajib zero blunder. Menghindari kesalahan jadi hal yang sangat penting di sisa masa bhakti PSSI 2003-2007.

Keterlambatan mendaftarkan Arema dan Persipura adalah blunder besar PSSI. Sia-sialah dana Rp 2 miliar untuk merenovasi Stadion Gajayana. Tak sebatas uang. Kehormatan dan kebanggaan jutaan warga Malang dan sekitarnya tercabik-cabik. Ini yang perlu dicamkan oleh seluruh petinggi sepak bola kita.

Arema adalah ikon kera-kera Ngalam. Mereka boleh kalah di lapangan, tapi jangan sekali-kali mereka kalah gara-gara keteledoran PSSI! Karena itu, solusi yang dijanjikan Agusman Effendi wajib direalisasikan 2007 mendatang.
* * *
Berarti, soliditas PSSI dan BLI menjadi hal yang mutlak. Sementara ini, hubungan PSSI dan BLI terkesan kurang serasi. Belum terjalin kepemimpinan kolektif yang kompak. Satu untuk semua, semua untuk satu. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Masih ada yang merasakan bahwa pembagian kekuasaan belum merata. Ketika membentuk Badan Tim Nasional, Ketua Bidang Timnas merasa tidak pas. Akhirnya semua kekuasaan Timnas diserahkan kepada bos BLI. Orang-orangnya juga sama. Begitulah desah yang terdengar. Kita tidak tahu persis permasalahannya. Tapi mudah-mudahan segala persoalan segera clear. Di sinilah peran Agusman Effendi sangat dibutuhkan. Menata seluruh komponen menjadi "kesebelasan yang kompak dan tangguh."

Mereka berharap, kendati Ketua Umum di Salemba, Pejabat Ketua Umum di Senayan, Ketua BLI dan BTN di Rasuna Said, tetapi sekretariat cukup satu yaitu di Senayan. Bahkan kalau bisa daulatlah salah seorang dari tiga pemimpin tersebut untuk memegang komando.

Semoga, di balik kasus Arema dan Persipura terkandung hikmah yang luar biasa. Hingga seluruh petinggi bola kita saling koreksi dan saling rangkul dalam barisan yang kompak.

Rakyat bola telah merasakan gerak kemajuan. Kini banyak tim tuan rumah yang dikalahkan tamunya. Wasit dan asisten wasit yang dinilai tak fair langsung dicoret. Marilah kita bersama-sama menggalang gerakan zero blunder. Semoga sepak bola kita -- di tataran klub sampai tim nasional -- menggapai tingkat mutu yang kita dambakan. Amin.*