Thursday, February 22, 2007

Belajar dari Kasus AREMA, Sulitnya Sponsor untuk Sepakbola

Logo Arema
Ancaman mundurnya Arema Malang dari kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia 2007 masih segar dalam ingatan kita pecinta bola. Hal ini didasari karena beberapa faktor yang dapat dikatakan merugikan bagi klub Arema, antara lain (1) Perpindahan Arema yang sebelumnya berada dalam Wilayah Barat menjadi ke wilayah Timur pada musim kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia 2007, (2) kebijakan BLI yang melarang pencantuman logo X-Mild sebagai produk sponsor utama mereka yaitu PT. Bentoel, pada bagian depan kostum.



Belum lagi hilang kesedihan atas kegagalan Arema untuk berlaga pada Liga Champions Asia 2006 karena faktor non-teknis, saat ini keputusan akan 2 (dua) hal tersebut diatas seakan menjadi wacana atau bahkan sebuah pemahaman bagi semua pecinta sepakbola tanah air khususnya klub Arema dan Aremania, bahwa ini adalah skenario untuk menjatuhkan Arema sebagai sebuah entitas komunitas dan entitas bisnis sepakbola. Kritik dan kecaman terutama dari klub Arema dan Aremania seakan tidak henti-hentinya masuk ke manajemen BLI, mempertanyakan dan menghujat keputusan tersebut.

Tentunya hal ini menjadi sebuah fenomena yang menarik untuk dikupas dan dibahas, apa yang sebenarnya menjadi masalah terbesar dari Arema atas kedua keputusan tersebut diatas. Hal ini akan kita coba bahas, agar ada sebuah informasi dan pengetahuan yang berimbang bagi seluruh masyarakat sepakbola tanah air. Faktor pertama, tentang perpindahan wilayah dari Barat ke Timur dianggap sebagai kebijakan yang kurang populis, dan bagi klub yang dipindahkan ke Wilayah Timur tentu akan menimbulkan handycap tersendiri bagi sebuah klub. Perlu disampaikan (ulang) bahwa klub yang mengalami rotasi dari wilayah Barat ke Timur dan juga sebaliknya, adalah klub yang berada dalam wilayah DIY, Jateng dan Jawa Timur (Lihat tulisan tentang 'Regulasi Baru 2007 Part 1').

Pertanyaannya adalah mengapa bagi sebagian klub yang berpindah dari Barat ke Timur seakan merasa jengah atas hal tersebut? Apakah sedemikian fatal perpindahan klub dari satu wilayah ke wilayah yang lain? Ada beberapa aspek kunci sukses bagi sebuah tim dalam menghadapi musim kompetisi sepakbola, yaitu: soliditas tim, manajemen klub dan tim serta faktor financial. Soliditas tim dapat dikatakan adalah hal yang dapat dikatakan merupakan hal yang tidak dapat ditawar lagi sebagai kunci sukses keberhasilan. Namun itu bukan satu-satunya faktor penentu, ambil contoh Real Madrid pada musim 2005 yang begitu jor-joran dalam membeli pemain bintang, bahkan sampai sekarang dijuluki sebagai 'los galacticos' (tim dari galaksi lain) karena para pemainnya yang memiliki nama besar dan sangat terkenal. Hasilnya ternyata tidak diduga bagi semua kalangan, Real Madrid tidak mampu meracik para pemain bintang tersebut menjadi sebuah kesatuan tim yang digjaya, bahkan tidak ada satu gelar pun yang mampu mereka raih dalam 2 tahun terakhir. Manajemen klub dan tim tidak mampu meramu sejumlah potensi yang mereka miliki yang tentunya membuat iri (mungkin) semua klub di dunia. Saat ini faktor financial menjadi faktor yang tidak terelakkan dalam gerak langkah sebuah entitas, baik individu, perusahaan bisnis dan dalam hal ini adalah klub sepakbola. Baik untuk keperluan belanja pemain, operasional, logistik dan lain-lain.

Arema merupakan salah satu dari sekian banyak klub sepakbola di Indonesia yang tidak didanai oleh APBD, artinya Arema sebagai klub sepakbola sepenuhnya mengandalkan sponsor yang berasal dari pihak swasta. Apa korelasi dari perpindahan wilayah dan dilarangnya pencantuman logo X-Mild selaku produk resmi dari PT. Bentoel yang notabene adalah sponsor utama Arema Malang hingga berbuntut kepada ancaman Arema menuntut mundur dari Ligina 2007? Hal ini yang akan kita coba kaji secara mendalam.
Pertama, perpindahan beberapa klub dari wilayah Barat ke Timur semata-mata untuk menciptakan kualitas kompetisi yang seimbang dan terjaga, konsekuensi dari hal tersebut yang membuat Arema (dengan sangat menyesal) terpaksa berpindah ke wilayah Timur. Jika sebelumnya Wilayah Timur dikatakan tidak terlalu menakutkan, musim kompetisi 2007 tidak demikian, pertandingan di wilayah Timur akan lebih menarik dibanding wilayah Barat. Sebut saja, Persebaya Surabaya juara Divisi Satu Ligina 2006, Persmin Minahasa juara wilayah Timur Divisi Utama 2006, Persekabpas Pasuruan dan Arema Malang juara Wilayah Barat sekaligus juara Piala Indonesia 2005 dan 2006, belum lagi Persipura Jayapura serta Persiba Balikpapan. Secara materi pemain dan kualitas tim Arema tidak perlu takut untuk berhadapan dengan salah satu bahkan seluruh klub peserta di wilayah Timur kompetisi 2007. Bahkan tim-tim tersebut yang harus berjuang keras untuk dapat mengalahkan Arema, dapat dikatakan Arema Malang adalah target sasaran yang harus dikalahkan. Secara kualitas tim Arema tidak perlu diragukan dapat bersaing dengan seluruh kompetitor klub-klub wilayah Timur kompetisi 2007.

Lalu apa yang kemudian menjadi kendala dan hambatan bagi tim sekelas Arema untuk sulit menerima keputusan BLI atas perpindahan wilayah ini? Ada beberapa konsekuensi yang timbul dari perpindahan wilayah yang berdampak secara langsung kepada Arema, baik dari sisi psikologis histories dan juga financial. Pertama, faktor psikologis historis dengan berpindahnya Arema ke wilayah Timur akan membuat mereka head to head dengan musuh abadi mereka yaitu Persebaya Surabaya. Sejarah panjang persaingan keduanya baik dari sudut pandang sejarah klub dan juga persaingan antara kedua kota tersebut di wilayah Jawa Timur menjadi 'nilai' tersendiri bagi keduanya. Masih segar dalam ingatan kita semua tragedy 'asu semper' (amuk supporter bulan September). Bonekmania tidak dapat menerima kegagalan tim mereka ke babak perempat final CDSSI 2006 karena kalah agregat gol dari Arema, hasilnya Bonek berulah dan menimbulkan kerugian yang tidak ternilai baik bagi nilai sepakbola dan juga masyarakat umum. Namun kiranya hal ini bukanlah hal yang perlu dijadikan sebuah ketakutan yang berkepanjangan, sebab pada tahun 2008 dengan digelarnya kompetisi Liga Super yang akan menggunakan system satu wilayah, dimana semua 18 klub yang tersebar di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke akan bertemu sepanjang kompetisi.

Musim kompetisi 2007 adalah ajang pemanasan bagi seluruh klub-klub peserta kompetisi Ligina untuk menuju Liga Super 2008. Pada Liga Super tidak dikenal lagi criteria tentang pemerataan kekuatan, potensi kerusuhan supporter dan aspek geografis dalam penyusunan wilayah, akan sulit kiranya sebuah pertandingan atau bahkan konsep Liga Super tidak dapat berjalan hanya karena adanya ketakutan atas potensi kerusuhan supporter antara Arema dengan Persebaya, Persija dengan Persib, PSIS dengan Persijap Jepara dan lainnya. Bahkan EPL (English Premiere League tidak pernah membatalkan pertandingan di Liga Inggris karena ketakutan bentrok pendukung Manchester United dengan Liverpool). Jadi sesungguhnya aspek psikologis historis bukanlah hal yang melandasi sikap Arema untuk mundur dari Kompetisi Liga Indonesia 2007.

Korelasi Perpindahan Wilayah Berdampak Kepada Finansial Tim
Perpindahan ini berdampak bukan hanya pada faktor psikologis historis namun juga berdampak pada faktor financial. Faktor geografis Indonesia yang sangat luas yang terdiri dari pulau-pulau berdampak pada faktor penerbangan, baik itu waktu perjalanan, biaya akomodasi serta transportasi tim. Sebuah klub akan mengeluarkan biaya dan waktu lebih banyak jika bertanding di wilayah Timur dibandingkan ke wilayah Barat. Sebut saja, Persebaya Surabaya jika bertanding melawan Persipura Jayapura harus menempuh sekitar 3-4 jam perjalanan udara, belum lagi akses jalan serta akomodasi dan transportasi darat lainnya. Sejumlah hal ini yang merupakan pertimbangan dan handycap tersendiri bagi klub, dalam hal ini Arema Malang, karena seluruh dana mereka bukanlah berasal dari APBD yang dapat dievaluasi paruh waktu.

Kedua , adalah kebijakan BLI terkait pelarangan pencantuman logo X-Mild sebagai produk resmi PT. Bentoel. Sebagaimana diketahui sebagaian besar kegiatan olahraga di Indonesia disponsori oleh Rokok, dan hal ini juga berlaku bagi dunia sepakbola Indonesia sampai saat ini. Kompetisi Liga Indonesia disponsori oleh Djarum Super yang merupakan salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia. Bahkan ada beberapa klub peserta kompetisi Liga yang disponsori oleh rokok, sebut saja Persik Kediri disponsori oleh Gudang Garam (selain dari APBD) dan Arema Malang yang disponsori secara penuh oleh Bentoel dengan produk X-Mildnya. Hal ini tentu menyulitkan, baik bagi BLI sebagai pengelola dan juga klub yang dibiayai oleh produk sejenis yaitu rokok.

Sebagai sponsor utama (main sponsor) kompetisi Ligina, PT. Djarum memiliki hak untuk memperoleh yang dinamakan dengan sponsor protection dari pengelola Kompetisi yaitu BLI untuk tidak mengizinkan produk sejenis berada dalam wilayah areal promosi mereka. Adapun wilayah promosi yang dimaksud dalam hal ini adalah pencantuman logo Djarum sebagai main sponsor di dada seragam pemain dan juga pemasangan sejumlah A-Board di pinggir lapangan. Dengan keluarnya kebijakan BLI tentang pelarangan tersebut tentunya sangat menyulitkan bagi kedua klub tersebut terutama Arema yang sepenuhnya pembiayaan memang dari PT. Bentoel, berbeda dengan Persik Kediri yang masih diback-up oleh APBD. PT. Djarum dan PT. Bentoel tentu sulit menerima hal ini, dalam hal ini dapat dikatakan keduanya adalah kompetitor yang berada dalam sebuah pasar yang sama, yang masing-masing ingin mendapatkan hak eksklusifitas dari sejumlah nilai saham yang telah mereka tanamkan, dan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan siapa yang pertama kali disponsori seperti yang ramai diberitakan di media. Bahwa dasar pertimbangan dari sebuah hubungan bisnis ada keuntungan dan jaminan sponsor protection. Inilah yang kemudian menjadi permasalahan.

Frizt Simanjuntak seorang advertising di bidang olahraga pernah mengusulkan dalam sebuah surat kabar nasional, tentang perlunya sebuah negosiasi atau kesepakatan antara kedua sponsor olahraga sepakbola ini, namun kiranya hal ini tidaklah semudah yang dibayangkan. Karena keduanya merupakan produsen rokok terbesar di Indonesia dan masing-masing memberikan nilai saham yang tidak kecil kepada masing-masing entitas ini (BLI dan Arema), tentunya jika untuk mengalah dapat dipastikan akan menemui jalan buntu. Bahkan BLI akhirnya memberikan resolusi kepada Arema, boleh menjadikan perusahaan rokok sebagai sponsor, namun dalam implementasi material sponsorship tidak mencantumkan produk rokok dalam hal ini X-Mild namun diperbolehkan mencantumkan nama perusahaan yaitu PT. Bentoel. Namun ternyata upaya ini juga seakan tidak menemukan titik terang, yang berujung kepada rencana penjualan klub Arema oleh Yayasan Arema, dalam hal ini PT. Bentoel.

Sebab dan Akibat
Inilah yang seakan menjadi puncak akumulasi kekecewaan dan kekesalan Arema baik klub dan fansnya, sudah berpindah wilayah dengan konsekuensi bertambah pula beban pembiayaan, belum lagi dilarangnya sponsor utama mereka untuk mencantumkan logo produk mereka yang berimbas kepada promosi dan pemasukan PT. Bentoel, dan berujung kepada rencana penjualan klub Arema kepada pihak ketiga. Sebagian pihak menyayangkan keputusan ini, boleh dibilang manajemen Arema sebagai sebuah klub sepakbola saat ini adalah rule model bagi pengelolaan industri klub sepakbola di Indonesia, namun dikarenakan masih sedikitnya perusahaan swasta yang ingin menginvestasikan sahamnya di dunia sepakbola Indonesia hal ini menjadi masalah klasik yang harus terus diperhatikan dan segera diselesaikan. Masalah sedikitnya perusahaan swasta yang ingin berinvestasi di dunia olahraga sepakbola Indonesia memiliki hambatan yang sama seperti halnya ekonomi dalam negeri Indonesia, yaitu mendatangkan investor asing masuk ke Indonesia untuk meningkatkan perekonomian negeri ini. Namun apa kendalanya, sampai saat ini tidak banyak perusahaan luar negeri yang melirik Indonesia untuk berinvestasi bahkan sampai Presiden RI dan Wakil Presiden RI roadshow ke beberapa Negara untuk meyakinkan para investor asing tersebut. Sama halnya dengan perusahaan swasta yang sulit untuk melirik sepakbola sebagai pasar bisnis mereka walaupun kampanye aktif terus dilakukan dan jumlah penggila bola di Indonesia bukanlah jumlah yang dapat dibilang sedikit. Jawabannya untuk keduanya adalah satu hal yaitu jaminan keamanan, kenyamanan dan keuntungan, baik dalam kehidupan bernegara maupun dalam sebuah penyelenggaraan event sepakbola. Hal ini hanya dapat terwujud melalui law enforcement, yang tentunya tidak dapat dilakukan oleh BLI sendiri (sebagai pembuat regulasi), namun juga oleh para klub peserta kompetisi terlebih lagi kesadaran penonton untuk menjaga keamanan dan ketertiban saat menonton pertandingan, disamping juga menonton dengan membayar tiket. (budi)


dari BLIOnline.com
Oleh :
Budi Setiawan
Asisten Research, Development & Dicipline Competition BLI


EmoticonEmoticon